| Kimia Kelas 3 > Pengertian Unsur Transisi |
Unsur
|
Nomor Atom
|
Konfigurasi Elektron
|
Orbital
|
| 3d | 4s |
| Skandium (Sc) | 21 | (Ar) 3d1 4s2 |
|
|
| Titanium (Ti) | 22 | (Ar) 3d2 4s2 |
|
|
| Vanadium (V) | 23 | (Ar) 3d3 4s2 |
|
|
| Krom (Cr) | 24 | (Ar) 3d5 4s1 |
|
|
| Mangan (Mn) | 25 | (Ar) 3d5 4s2 |
|
|
| Besi (Fe) | 26 | (Ar) 3d6 4s2 |
|
|
| Kobalt (Co) | 27 | (Ar) 3d7 4s2 |
|
|
| Nikel (Ni) | 28 | (Ar) 3d8 4s2 |
|
|
| Tembaga (Cu) | 29 | (Ar) 3d10 4s1 |
|
|
| Seng (Zn) | 30 | (Ar) 3d10 4s2 |
|
|
Konfigurasi elektron Cr bukan (Ar) 3d4 4s2 tetapi (Ar) 3d5 4s1. Demikian halnya dengan konfigurasi elektron Cu bukan (Ar) 3d9 4s2 tetapi (Ar) 3d10 4s1. Hal ini berkenaan dengan kestabilan orbitalnya, yaitu orbital-orbital d dan s stabil jika terisi penuh, bahkan 1/2 penuh pun lebih stabil daripada orbital lain.
Struktur elektronik logam transisi
Apakah logam transisi itu?
Istilah logam transisi (atau unsur) dan unsur blok d kadang-kadang
dapat digunakan secara bersamaan jika keduanya memberikan arti yang
sama. Keduanya tidak sama – terdapat perbedaan yang tidak kentara
diantara dua istilah tersebut.
Kita akan membahas unsur-unsur blok d terlebih dahulu:
unsur-unsur blok d
Kamu akan mengingat bahwa ketika kamu membuat tabel periodik dan ketika
meletakkan elektron, sesuatu yang ganjil terjadi setelah argon.
Pada argon, tingkat 3s dan 3p terisi penuh, tetapi setelah itu daripada
mengisi tingkat 3d berikutnya, malahan mengisi tingkat 4s terlebih
dahulu menghasilkan kalium dan kemudian kalsium.
Setelah itu baru tingkat orbital 3d yang akan diisi.
Unsur-unsur dalam tabel periodik yang bersesuaian dengan pengisian
tingkat d disebut dengan unsur-unsur blok d. Baris pertama ditunjukkan
melalui tabel periodik singkat di bawah ini.
Struktur elektronik unsur-unsur blok d adalah sebagai berikut:
| Sc |  | [Ar] 3d14s2 |
| Ti |  | [Ar] 3d24s2 |
| V |  | [Ar] 3d34s2 |
| Cr |  | [Ar] 3d54s1 |
| Mn |  | [Ar] 3d54s2 |
| Fe |  | [Ar] 3d64s2 |
| Co |  | [Ar] 3d74s2 |
| Ni |  | [Ar] 3d84s2 |
| Cu |  | [Ar] 3d104s1 |
| Zn |  | [Ar] 3d104s2 |
Kamu dapat memperhatikan bahwa pola pengisiannya sama sekali tidak teratur! Pola ini dilanggar pada kromium dan tembaga.
Logam-logam transisi
Tidak
semua unsur-unsur blok d termasuk sebagai logam transisi! Ada
ketidakcocokan pada berbagai UK-based syllabus, tetapi pada
umumnya menggunakan definisi:
| Logam
transisi adalah sesuatu yang dapat membentyk saty atau lebih ion
stabil yang memiliki orbidal d yang tidak terisi (incompletely filled d orbitals.) |
Berdasarkan pengertian ini, skandium dan seng tidak termasuk logam transisi – sekalipun termasuk anggota blok d.
Skandium memiliki struktur elektronik [Ar] 3d
14s
2.
Ketika skandium membentuk ion, skandium selalu kehilangan 3 elektron
terluar dan pada akhirnya sesuai dengan struktur argon. Ion Sc
3+ tidak memiliki elektron d dan karena itu tidak sesuai dengan definisi tersebut diatas.
Seng memiliki struktur elektronik [Ar] 3d
104s
2. Ketika seng membentuk ion, seng selalu kehilangan dua elektron 4s menghasilkan ion 2+ dengan struktur elektronik [Ar] 3d
10. Ion seng memiliki tingkat d yang terisi penuh dan juga tidak sesuai dengan definisi tersebut diatas.
Hal yang berbeda, tembaga, dengan struktur elektronik [Ar] 3d
104s
1, membentuk dua ion. Pada ion Cu
+ struktur elektroniknya adalah [Ar] 3d
10. Akan tetapi, pada umumnya membentuk ion Cu
2+ yang memiliki struktur [Ar] 3d
9.
Tembaga termasuk logam transisi karena ion Cu
2+ memiliki tingkat orbital d yang tidak terisi penuh.
Ion-ion logam transisi
Kamu dapat memahami fakta bahwa ketika tabel periodik disusun, orbital
4s lebih dahulu diisi sebelum orbital-orbital 3 d. Hal ini karena
pada atom kosong, orbital 4s memiliki energi yang lebih rendah
dibandingkan orbital-orbital 3d.
Akan tetapi, sekali
elektron menempati orbitalnya, terjadi perubahan tingkat energi –
dan ini terjadi pada semua unsur-unsur transisi, orbital 4s berkedudukan
paling luar, tingkat energi orbital paling tinggi.
Urutan yang terbalik dari orbital-orbital 3d dan 4s hanya dapat
digunakan untuk menempatkan atom pada tempat pertama. Dalam mematuhi
aturan, kamu memperlakukan elektron- elektron 4s sebagai
elektron-elektron paling luar.
Ingat ini:
| Ketika unsur-unsur blok d membentuk ion, elektron-elektron 4s menghilang terlebih dahulu. |
Penulisan struktur elektronik untuk Co2+:
| Co |  | [Ar] 3d74s2 |
| Co2+ |  | [Ar] 3d7 |
Ion 2+ terbentuk melalui kehilangan dua elektron 4s.
Penulisan struktur elektronik untuk V3+:
| V |  | [Ar] 3d34s2 |
| V3+ |  | [Ar] 3d2 |
Elektron-elektron 4s menghilang terlebih dahulu kemudian diikuti oleh satu elektron 3d.
Perubahan tingkat oksidasi (bilangan)
Salah satu ciri kunci dari kimia logam transisi adalah
bermacam-macamnya tingkat oksidasi (bilangan oksidasi) yang dapat
ditunjukkan oleh logam.
Sesuatu angapan yang salah, untuk
memberikan kesan bahwa hanya logam transisi saja yang memiliki
perubahan tingkat oksidasi. Sebagai contoh, unsur-unsur seperti
belerang dan klor memiliki bermacam-macam tingkat oksidasi pada
persenyawaannya – dan sudah sangat jelas bahwa belerang dan klor tidak
termasuk logam transisi.
Akan tetapi, perubahan ini tidak
sebanyak pada logam selain unsur-unsur transisi. Logam yang dikenal yang
berasal dari grup utama tabel periodik, hanya timbal dan timah saja
yang menunjukkan perubahan tingkat oksidasi sampai tingkat tertentu.
Contoh perubahan tingkat oksidasi dalam logam-logam transisi
Besi
Besi pada umumnya memiliki dua tingkat oksidasi (+2 dan +3) dalam bentuk, sebagai contoh, Fe
2+ dan Fe
3+. Besi juga dapat memiliki bilangan oksidasi +6 pada ion ferat(VI), FeO
42-..
Mangan Mangan memiliki tingkat oksidasi yang bermacam-macam pada persenyawaannya. Sebagai contoh:
| +2 | in Mn2+ |
| +3 | in Mn2O3 |
| +4 | in MnO2 |
| +6 | in MnO42- |
| +7 | in MnO4- |
Contoh-contoh yang lain
Kamu dapat menemukan contoh-contoh di atas dan contoh- contoh yang lain
dengan lebih mendalam jika kamu mengeksplor sifat kimia dari
masing-masing logam pada menu logam transisi. Menu tersebut merupakan
sambungan dari menu ini yang terletak pada bagian bawah halaman ini.
Keterangan tentang perubahan tingkat oksidasi pada logam transisi
Perhatikan bentuk ion sederhana seperti Fe
2+ dan Fe
3+
Ketika logam membentuk senyawa ionik, rumus senyawa yang dihasilkan
tergantung pada proses energetika. Secara keseluruhan, senyawa yang
terbentuk merupakan suatu senyawa yang paling banyak melepaskan energi.
Lebih banyak energi yang dilepaskan, senyawa lebih stabil.
Terdapat beberapa pengertian mengenai istilah energi, tetapi kuncinya adalah:
- Jumlah energi yang diperlukan untuk mengionisasi logam (penjumlahan berbagai energi ionisasi).
- Jumlah
energi yang dilepaskan ketika terjadi pembentukan senyawa. Jumlah
energi ini merupakan salah satu dari entalpi kisi jika kamu berfikir
tentang padatan, atau entalpi hidrasi ion jika kamu berfikir
tentang larutan.
Ion yang bermuatan lebih tinggi,
kamu memiliki lebih banyak elektron untuk dihilangkan dan lebih banyak
energi ionisasi yang kamu perlukan.
Tetapi pada kasus ini, ion
bermuatan lebih tinggi, lebih besar energi yang dilepaskan oleh salah
satu diantara entalpi kisi atau entalpi hidrasi ion logam.
Berfikir tentang logam non-transisi yang khas (kalsium)
Kalsium klorida adalah CaCl
2. Mengapa begitu?
Jika kamu berusaha untuk membuat CaCl, (mengandung sebuah ion Ca
+), proses keseluruhan adalah sedikit eksoterm.
Malahan dengan membuat ion Ca
2+,
kamu memiliki banyak energi untuk mensuplai energi ionisasi, tetapi
kamu kehilangan lebih banyak energi kisi. Hal ini disebabkan
karena antaraksi yang terjadi antara ion klorida dengan ion Ca
2+ lebih banyak dibandingkan jika kamu hanya memiliki satu ion +1 saja. Keseluruan proses sangat eksoterm.
Karena pembentukan CaCl
2 lebih banyak melepaskan energi dibanding pembentukan CaCl, menyebabkan CaCl
2 lebih stabil – dan cenderung terbentuk.
Bagaimana dengan CaCl
3? Saat ini kamu harus menghilangkan elektron lain dari kalsium.
Dua yang pertama berasal dari tingkat 4s. Satu yang ketiga datang dari
3p. Keadaan ini menyebabkan elektron-elektron lebih dekat ke inti dan
karena itu lebih sulit untuk dihilangkan. Terjadi lompatan yang besar
pada energi ionisasi antara elektron kedua dan ketiga yang dihilangkan.
Meskipun hal ini akan memberikan keuntungan pada segi entalpi kisi,
tetapi entalpi tersebut tidak cukup untuk menggantikan kelebihan energi
ionisasi, dan secara keseluruhan proses ini sangat endoterm.
Sesuatu hal yang tidak cukup tepat secara energetika untuk membuat CaCl
3!
Berfikir tentang logam transisi khas (besi)
Berikut ini perubahan struktur elektronik besi untuk membuat ion 2+ atau 3+.
| Fe |  | [Ar] 3d64s2 |
| Fe2+ |  | [Ar] 3d6 |
| Fe3+ |  | [Ar] 3d5 |
Orbital
4s dan orbital-orbital 3d memiliki energi yang sangat mirip. Tidak
terdapat lonjakan jumlah energi yang sangat besar yang kamu perlukan
untuk menghilangkan elektron ketiga dibandingkan dengan yang elektron
pertama dan kedua.
Gambaran untuk ketiga energi ionisasi pertama (dalam kJ mol-1) untuk besi dibandingkan dengan kalsium adalah:
| metal | 1st IE | 2nd IE | 3rd IE |
| Ca | 590 | 1150 | 4940 |
| Fe | 762 | 1560 | 2960 |
Terdapat
kenaikan energi ionisasi yang disebabkan elektron yang lebih banyak
yang terdapat pada atom karena kamu memiliki bilangan proton yang sama
pada beberapa elektron. Akan tetapi, terdapat sedikit kenaikan ketika
kamu memiliki elektron ketiga dari besi dibanding dari kalsium.
Pada kasus besi, kelebihan energi ionisasi dapat digantikan lebih
banyak atau lebih sedikit oleh kelebihan entalpi kisi atau entalpi
hidrasi yang tersusun ketika terjadi pembentukan senyawa 3+.
Keuntungan dari ini semua adalah perubahan entalpi keseluruhan tidak
terlalu berbeda ketika kamu membuat, katakanlah, FeCl
2 atau FeCl
3. Hal ini berarti bahwa tidak terlalu sulit untuk mengubah kedua senyawa.
Pembentukan ion-ion kompleks
Apakah ion kompleks itu?
Ion kompleks memiliki ion logam pada pusatnya dengan jumlah tertentu
molekul-molekul atau ion-ion yang mengelilinginya. Ion-ion yang
mengelilinginya itu dapat berdempet dengan ion pusat melalui ikatan
koordinasi (dative covalent). (Pada beberapa kasus, ikatan yang
terbentuk sebenarnya lebih rumit dibandingkan dengan ikatan koordinasi).
Molekul-molekul atau ion-ion yang mengelilingi logam pusat disebut dengan
ligan-ligan.
Yang termasuk pada ligan sederhana adalah air, amonia dan ion klorida.
Dimana
semua ligan-ligan tersebut memiliki pasangan elektron tak berikatan
yang aktif pada tingkat energi paling luar. Pasangan elektron tak
berikatan ini digunakan untuk membentuk ikatan koordinasi dengan ion
logam.
Beberapa contoh ion kompleks yang dibentuk oleh logam transisi
- [Fe(H2O)6]2+
[Co(NH3)6]2+
[Cr(OH)6]3-
[CuCl4]2-
Logam-logam yang lain juga dapat membentuk ion-ion kompleks – ini tidak
berarti hanya logam transisi saja. Akan tetapi, logam-logam
transisi dapat membentuk ion-ion kompleks yang beragam
Pembentukan senyawa-senyawa berwarna
Beberapa contoh yang lazim
Diagram menunjukkan kisaran warna untuk beberapa ion kompleks logam yang lazim.
Kamu
dapat menemukan ion-ion kompleks logam tersebut diatas dan ion-ion
kompleks logam yang lain jika kamu membuka halaman yang berhubungan dari
menu logam transisi (link pada bagian bawah halaman).
Kemungkinan yang lain, kamu dapat mengekplorasi menu ion-ion kompleks
(mengikuti link pada kotak bantuan pada bagian atas layar).
Asal mula munculnya warna pada ion-ion logam transisi
Ketika sinar putih melewati larutan yang berisi salah satu dari ion
tersebut, atau sinar putih tersebut direfleksikan oleh larutan tersebut,
beberapa warna dari sinar dapat di absorpsi (diserap) oleh larutan
tersebut. Warna yang dapat dilihat oleh mata kamu adalah warna yang
tertinggal (tidak di absorpsi).
Pelekatan ligan pada ion logam
merupakan efek dari energi orbital-orbital d. Sinar yang diserap sebagai
akibat dari perpindahan elektron diantara orbital d yang satu dengan
yang lain. Penjelasan yang lebih jelas dapat dilihat pada halaman yang
lain.
Aktivitas katalitik
Logam transisi dan
persenyawaannya merupakan katalis yang baik. Beberapa kasus yang nyata
dapat dilihat dibawah ini, tetapi kamu akan menemukan penjelasan
katalisis secara mendalam pada bagian lain situs (ikuti link setelah
contoh).
Logam transisi dan senyawa-senyawanya dapat berfungsi
sebagai katalis karena memiliki kemampuan mengubah tingkat oksidasi
atau, pada kasus logam, dapat meng-adsorp substansi yang lain pada
permukaan logam dan mengaktivasi substansi tersebut selama proses
berlangsung. Semua bagian ini dibahas pada bagian katalisis.
Logam transisi sebagai katalis
Besi pada Proses Haber Prose Haber menggabungkan hidrogen dan nitrogen untuk membuat amonia dengan menggunakan katalis besi.

Nikel pada hidrogenasi ikatan C=C
Reaksi ini terdapat pada bagian inti pembuatan margarin dari minyak tumbuhan.
Akan tetapi, contoh sederhana terjadi pada reaksi antara etana dengan hidrogen melalui keberadaan katalis nikel.

Senyawa-senyawa logam transisi sebagai katalis
Vanadium(V) oksida pada Proses Contact
Bagian
inti Proses Contact adalah reaksi konversi belerang dioksida menjadi
belerang trioksida. Gas belerang dioksida dilewatkan bersamaan
dengan udara (sebagai sumber oksigen) diatas padatan katalis
vanadium(V) oksida.

Ion-ion besi pada reaksi antara ion-ion persulfat dan ion-ion iodida
Ion persulfat (ion peroksodisulfat), S
2O
82-,
merupakan agen pengoksidasi yang sangat kuat. Ion iodida sangat mudah
dioksidasi menjadi iodin. Dan reaksi antara keduanya berlangsung
sangat lambat pada larutan dengan pelarut air.
Reaksi di katalisis oleh keberadaan salah satu diantara ion besi(II) atau ion besi(III).
