Tampilkan postingan dengan label fisika kelas VII. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label fisika kelas VII. Tampilkan semua postingan

Cara Menggunakan Mikroskop

Cara Menggunakan Mikroskop, Arikel Fiska Kelas 7 (VII) SMP Cara Mengukur melalui Mikroskop.
Miroskop adalah alat yang dipergunakan untuk mengamati serta mempelajari objek-objek/Spesimen, yang mempunyai ukuran yang sangat kecil.
Ukuran sepesimen yang kita ingin amati bisa diperkirakan melalui cara untuk membandingka spesimen itu dengan ukuran yang ada dilapangan.

Cara Menggunakan Mikroskop
  1. Gunakanlah lensa yang berobjektif dengan perbesaran yang lemah, misalnya 10x. Letakkanlah penggaris plastik yang transparan dengan menggunakan skala milimeter di atas meja objek mikroskop tersebut. Unit pengukuran panjang yang digunakan ialah micron. 1MM sama dengan 1000 micron.
  2. Aturlah-aturlah pemutar mikroskom yang kasar sehingga mistar terlihat fokus sekali.
  3. Pelan-pelanlah untuk mengeser mistar sehingga dapat diperoleh bayangan.
  4. Jika ukuran lapangan pandang pada mikroskop seperti terlihat diatas Gambar, berarti ukurannya untuk dilapangan pandangnya pada mikroskop itu adalah 12Mm.

Rumus Fisika Sifat Zat Cair

Rumus Sifat-sifat Zat Cair, Artikel fiska SMP Kelas 7
1. Rumus Massa Jenis zat cair, ρ (rho)
2. Berat Jenis, γ (gamma)
3. Rapat Relatif (S)
4. Kemampatan zat cair (K)
5. Kekentalan zat cair
6. Tegangan geser / permukaan
7. Kapilaritas

Setelah sebelumnya membahas tentang Sifat-sifat zat cair


1. Rumus Messa Jenis zat cair, ρ (rho)
ρ = M / V
Ket :
ρ : Massa Jenis (1000 kg/cm2) (ro)
M : Massa
V : Volum

2. Rumus Berat Jenis, γ (gamma)
Rumus Berat Jenis
Ket :
γ : Berat jenis
W : Berat
V : Volume
M : Massa
g : Gravitasi

3. Rumus Rapat Relatif (S)
Rumus mass Air Rapat Relatif
Ket:
S = rapat relatif
ρ : Massa Jenis
γ : Berat jenis

4. Rumus Kemampatan zat cair (K)
Rumus Kemampatan zat cair
Ket:
dp : Pertambahan tekanan
dV : Pengurangan volume
V : Volume awal

5. Rumus Kekentalan zat cair
ν = μ/ρ
Ket :
ν : Kekentalan dinamik
μ : Kekentalan kinematik
ρ = Rapat massa

6. Rumus Tegangan geser
Rumus Tegangan geser
Keterangan :
t = Tegangan geser
μ : Kekentalan kinematik
du / dy : Gradien kecepatan

7.  Rumus  Kapilaritas
h = 2σ cos θ / γr
Ke :
h : kenaikan kapilaritas
σ : Tegangan permukaan
γ : Berat jenis
r : jari-jari
θ : 0° untuk air dan 140° untuk air raksa

Sekian tentang artikel Rumus Sifat-sifat Zat Cair semoga bermanfaat

Sifat-sifat Zat Cair

Sifat-sifat dari zat cair

Artikel Fisika Kelas 7 SMP dalam bab Sifat zat padat gas dan cair dan wujudnya.

Setelah sebelumnya membahas tentang pengertian atau definisi fluida
Sifat-Sifat Zat Cair


Sifat sifat yang dimiliki zat cair adalah

1. Bentuk dari zat selalu berubah-ubah
Seperti halanya pada zat gas, Bentuk fisik dari zat cair itu sendiri juga selalu berubah-ubah, Berubah-ubahnya zat cair ini di karenakan zat cair bisa menempati semua ruangan, Contohnya Aqua Botol, maka banrtuknya juga akan seperti wadah aqua botol.

2. Permukaannya yang selalu datar
Permukaaan zar cair yang datar dab tenan bila tidak ada gaya yang menggerakan zat cair ini, Contoh pengaplikasianya sering di gunakan untuk pengukuran massa dengan zat cair kedataran, Banyak di gunakan untuk bangunan.

3. Zat cair Mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah
Karakteristik aliran fluida atau Zat cair selalur mengalir dari hulu ke hilir atau dari atas kebawah, contohnya saat anda minum aqua juga.
Kecepatan air juga tergantung dari gravitasi, ketinggian/kemiringan yang dilalui air untuk mengalir serta debitnya.

4. Menekan ke segala arah
Zat cair selalu menekan ke penjuru arah, hal ini bisa di buktikan air berada dimana di bumi ini, walau di dalam tanah sekalipun
tekanan air semakin besar apabila kedalamanya semakin dalam, misalnya di laut, semakin dalam maka tekanannya akan semakin tinggi, ini bisa di buktikan ketika anda menyelam dan mau bernafas susah.

5. Air Meresap melalu celah kecil
Air bisa masuk dan meresap ke pori-pori sekecilpun, ini bisa di buktikan air bisa menembus kaca mobil atau mengembun saat hujan.

Sekian Artikel tentang Sifat-sifat dari zat cair semoga bermanfaat.

Sifat Sifat Zat Cair, Padat Dan Gas

Sifat Sifat Zat Cair, Padat Dan Gas, Artikel Fisika Untuk SMP Kelas 7 Di bab sifat-sifat zat dan wujudnya
1. Sifat-sifat dari Molekul Pada Zat Padat
- Gaya saling tarik menarik yang sangat kuat
- Susunannya yang berdekatan atntara satu dengan yang lainya.
- Letaknya yang berdekatan
- Zatnya tida bisa bergerak secara bebas

2. Sifat-sifat dari Molekul-molekul pada Zat Cair
- Gaya untuk salinf tarik menariknya tidak begitu terlalu kuat
- Susunan yang tidak saling beraturan
- Tata Letaknya agak renggang
- Bisa Bergerak bebas dan berpindah-pindah tempat

3. Sifat-sifat dari Molekul pada Zat Gas
- Gayasaling tarik menariknya sangat kecil
- Susunannya sangat tidak teratur
- letaknya saling berjauhan
- bergerak dengan sangat bebas

Untuk latihan soal Klik Soal dan jawaban zat padat

Sekian tentang artikel Sifat Sifat Zat Cair, Padat Dan Gas semoga bermanfaat

Pengukuran Massa Benda Dengan Neraca Ohaus

Pengukuran Massa Benda Dengan Neraca Ohaus, Neraca Ohaus tiga (3) Lengan dan Dua (2) Lengan, Bagian-bagian atau Komponen-Komponen nya, Fisika kelas 7 (VII) SMP Tentang bab Besaran Massa.

Setelah sebelumnya membahas Pengukuran massa Jenis Zat Cair Kita lanjutkan dengan Pengukuran Massa Benda Dengan Neraca Ohaus

1. Neraca Ohaus dua lengan
Pengukuran Massa Benda Dengan Neraca Ohaus Dua (2) LEngan
Sekala dan Cara menggunakan Neraca Ohaus dua lengan.
pada neraca ohaus dua lengan Nilai pada skala bagian ratusan serta puluhan di geser, akan tapi pada skala satuan dan 1/100 nya hanya di putar saja.
Seperti terlihat di samping ini adalah gambar dari neraca Ohaus dua lengan.
Terlihat bahwa Lengan didepan terdapat satu anting logam yang bisa digeser-geser dari angka 0, 10, 20, 30,..........., 100Gram.
Sedangkan lengan di bagianbelakang lekukan-lekukannya dimulai dari angka 0, 100, 200, 300,...........,500 Gram.
Neraca Ohaus dua lengan ini memiliki skala utama dan skala nonius.
Skala utamanya adalah 0 sampai 9 Gram
Dan Sekala Noniusnya adalah  0 sampai 0,9 Gram.

Komponen atau bagian-bagaian dari Neraca Ohaus dua lengan :
1. Lengan depan
2. Lengan belakang
3. System magnetic
4. Penggeser anak timbangan
5. Venier
6. Kait
7. Skala
8. Lekuk
9. Wadah
10. Alas

2. Neraca Ohaus tiga lengan
Pengukuran Massa Benda Dengan Neraca Ohaus Tiga (3) LenganDineraca Ohauss tiga lengan batas dari pengukurannya hanya samapai di angka 310 gram saja dan neraca ohaus tiga lengan ini memiliki ketelitian 0,01 gram.
Berdasarkan referensinya bahwa ketidak pastian dari neraca ohaus tiga lengan ialah 0,5 dari ketelitian alatnya.
Secara matematis bisa ditulis:
Ketidakpastian = 0,5 x skala terkecil
Contohnya batas ukurnya adalah 310 gram mempunyai skala paling kecil 0,1 gram,
sehingga dapat diperoleh ketidakpaastiannya adalah 0,5 × 0,1 = 0,05 Gram.

Bagian-bagian Lenganya
Lengan di paling depan pada neraca ohaus tiga lengan ini memiliki anting logam yang bisa digeser dengan skala yang memiliki angka 0, 1, 2, 3, 4,5, 6, 7, 8, 9,dan 10 Grm.
Di mana masing-masing lengan depanya terdiri 10 skala tiap skala 1 Gram.jadi skala terkecil adalah 0,1 Gram.
Lengan tengah, anting lengan bisa digeser, tiap skala mempunyai nilai berat 100 Gram, dimulai dari skala 0,100, 200, ………, 500 Gram.
Lengan belakang, anting lengan bisa digeser, tiap skala mempunyai nilai berat 10 gram, dimulai dari skala 0, 10, 20, …, 100 Gram.
  • Contohnya
Contoh Soal Neraca Ohaus tiga Lengan
Dari hasil penimbangan pada gambar bisa dapat diketahui bahwa:
  1. Posisi lengan paling depan adalah 5,5 gr
  2. posisi lengan paling tengah adalah 20,0 gr
  3. posisi lengan paling belakang adalah 200,0 gr = sehingga didapat hasil 225,5 gram
Sekian artikel tentang Pengukuran Massa Benda Dengan Neraca Ohaus

Pengukuran Massa Jenis Zat Cair

Pengukuran Massa Jenis Zat Cair Mengukur / Pengukuran Massa Jenis pada Zat Padat, Rumus Massa Jenis Zat Cair, Materi Ajar Fisika SMP Kelas 7 (vii).


Sebelumnya sudah dibahas tentang Pengukuran, Panjang, Massa Dan Waktu dan juga Cara Mengukur Besaran Massa Sebelum melanjutkan membaca saya sarankan untuk membancanya terlebih dahulu.

pengukuran massa jenis zat cair
1. Pengukuran Massa Jenis pada Zat Padat
Cara memperoleh massa jenis zat padat.

Timbangglah massa zat tersebut ke dalam timbangan, maka akan di peroleh hasilnya, Seperti terlihat pada gambar disamping menggunakan tombangan hasilnya adalah 4 Kg.

Dan terlihat sisamping adalah alat Gelas ukur dengan yang dimasukin air/fluida setinggi 30.

Kemudian masukan batu masukan 4 Kg batu yang sudah di timbang di timbangan tadi, ke gelas zat ukur.
maka akan diperoleh hasil 40 seperti terlihat pada gambar berikut.
Mengukur Zat Padat Dengan Menggunakan Zat Cair

Selisiah antara sebelum dimasukkan batu dan sesudah dimasukkan batu itu merupakan volume dari batu diatas.

2. Mengukur Massa Jenis Zat Cair
Cara memntukan massa jenis dari suatu zat cairan, Maka perlu dilakukan penimbanggan massa gelas ukur dalam keadaan kosong, dan timbanglah gelas ukur tersebut, misalnya gelas ukukur tersebut mempunyao massa 30 Gram, Kemudian isilah gelas ukur tersebut dengan cairaan yang akan ditentukan massa jenisnya sampai volume 40Cm misalnya, Kemudian setelah gelas ukur tersebut sudah tersisi cairan, kumudian timbang kembaki  gelas ukur tersebut, dan di dapat hasil 60 Gram.
Dengan demikian bisa diperoleh massa jenis cairan tersebut adalah (60 gram - 30 Gram) : 40 cm. makas hasilnya 0.74

3. Rumus Massa Jenis


4. Penting
Massa jenis dari benda bisa kita tentukan dengan mengukur volume benda dan massa benda.
Sekian Tentang Pelajaran Pengukuran Massa Jenis Zat Cair Semoga bermanfaat.

Cara Mengukur Besaran Massa

Cara Mengukur Besaran Massa
Artikel Fisika SMP kelas 7 (VII)

Key: Cara Mengukur Besaran Massa, Besaran Massa dalam Sistem Internasional, Cara Membaca Neraca O-Hauss Pertanyaan besaran massa serta pengertian nya.

Neraca Ohaus digunakan Mengukur Besaran Massa

Mengukur Besaran Massa
Pengertian Besaran Massa, Benda-benda bisa diukur menggunakan neraca/timbangan.
Alat-alat yang digunakan untuk mengukur besaran massa adalah
  1. Neraca Ohaus
  2. Neraca lengan
  3. Timbangan dacin.
Besaran Massa dalam Sistem Internasional
NamaSimbol dalam rumusSimbol dimensiSatuan SISimbol satuan
MassaM[M]kilogramKg
Cara Membaca Neraca O-Hauss
Sebuat baju ditimbang menggunakan O’Hauss tiga lengan.
Posisi lengan depan, tengah, dan belakang didalam keadaan yang seimbang, Seperti diperlihatkan di gambar ini.
Cara Membaca Neraca O-Hauss\

Dari hasil penimbangan pada gambar bisa dapat diketahui bahwa:
  1. Posisi anting depan  adalah 5,5 gr
  2. posisi anting tengah adalah 20,0 gr
  3. posisi anting belakang adalah 200,0 gr = sehingga didapat hasil 225,5 gr
Pertanyaan Seputar besaran massa.
Timbanglah buku anda, dan berapakah massa yang dapat diperlihatkan dari neraca ohaus, neraca lengan dan timbangan badan?

Pengukuran Panjang

Pengukuran penjang

Cara membaca operasi satuan besaran penjang serta contoh soal dan penyelesain pengukuran panjang Artikel fisika smp kelas 7 (VII).
Untuk pengertian pengukuran Klik pengertian pengukuran.
Satuan panjang antara lain:
  1. milimeter (mm)
  2. sentimeter (cm)
  3. desimeter (dm)
  4. meter (m)
  5. hektometer (hm)
  6. kilometer (km).
Masukan angka yang ingin anda cari untuk menemukan hasilnya dalam tabel di bawah ini.





Operasi satuan panjang

Bagaimanakah operasi satuan panjang pada operasi satuan panjang satuan harus disamakan terlebih dahulu.
Operasi satuan panjang
Contoh:
1. 3 km + 8 dam – 20 hm =
    3 km = 3 × 1.000 m = 3.000 m
    8 dam = 8 × 10 m = 80 m
    20 hm = 20 × 100 = 2.000 m
    Jadi, 3 km + 8 dam – 20 hm = 3.000 m + 
    80 m – 2.000 m
    = 1.080 m
2. 3.000 mm + 5.000 cm – 40 m = ... dm.
    3.000 mm = 3.000 : 100 m = 30 dm
    5.000 cm = 5.000 : 10 dm = 500 dm
    40 m = 40 × 10 = 400 dm
    Jadi, 3.000 mm + 5.000 cm – 40 m = 30 dm + 500 dm – 400 dm
    = 130 m


Sekian artikel tentang Pengukuran panjang Semoga bermanfaat.

Bagian Bagian Dari Jangka Sorong Beserta Fungsinya

Bagian Bagian Dari Jangka Sorong Beserta Fungsinya Artikel ini di materi fisika SMP Kelas 7 (VII) (Besaran Panjang)
Bagian Bagian Dari Jangka Sorong Beserta Fungsinya

1. Rahang dalam
Rahang dalam berfungsi mengukur sisi bagian luar benda.
Terdiri atas rahang geser serta rahang tetap.
2. Rahang luar
Rahang luar berfungsi mengukur sisi bagian dalam benda.
Terdiri atas rahang geser serta  rahang tetap.
3. Depth probe
Depth probe berfungsi mengukur kedalaman benda.
4. Skala Utama (cm)
Diskala utama jangka sorong, Terdapat angka nol - tujuh belas Cm, dan pada bagian garis-garis yang pendeknya atau di sisinya yang berjumlah empat stuanya adalah mm, serta garis kelima aau garis yang lebih pendek dari (CM) dan lebih panjang dari MM) adalah meunjukan setenghnya misalnya 1,5, 2,5, 3,5 DST.
Sepuluh skala utama memiliki panjang satu cm sehingga dua sekala utama yang berdekatan berukuran 0,1 cm atau sama dengan 1 mm.
 Skala Utama jangka Sorong
5. Skala utama (dalam inchi)
Pada skala utama, angka 0 - 6 menunjukan skala dalam inchi sedangkan garis - garis yang lebih pendeknya dalam fraksi.
6. Skala nonius (dalam 1/10 mm)
Pada jangka sorong di atas, untuk setiap garis skala menunjukan 1/10 mm. Tetapi ada juga yang memiliki skala 1/20, dll. Sepuluh skala nonius memiliki panjang 9 mm, sehingga jarak dua skala nonius yang saling berdekatan adalah 0,9 mm. Dengan demikian, perbedaan satu skala utama dan satu skala nonius adalah 1 mm - 0,9 mm = 0, 1 mm atau 0,01 cm.
Dengan melihat skala terkecil dari jangka sorong ini, maka ketelitian dari jangka sorong adalah setengah dari skala terkecil jangka sorong tersebut, yaitu:
Skala nonius jangka Sorong
7. Skala Nonius (untuk inchi)
Menunjukan skala pengukuran fraksi dari inchi
8. Pengunci
Digunakan untuk menahan bagian - bagian yang bergerak ketika pengukuran seperti rahang atau Depth probe.

Menjumlahkan Vektor Dengan Cara Metode Uraian

Menjumlahkan Vektor dengan Cara Metode Uraian
Daftar ISI
Menguraikan Vektor Menjadi Vektor Komponennya
Menjumlahkan Vektor Melalui Vektor-Vektor Komponennya
Menguraikan sebuah vektor menjadi dua vektor komponen yang saling tegak lurus
cara metode uraian dalam untuk mencari besar dan arah vektor resultan

Setelah sebelumnya membahas tentang Penjumlahan Vektor Dengan Metode Grafis dan Analisis

Menguraikan Vektor Menjadi Vektor Komponennya
Vektor bisa diuraikan menjadi 2 buah vektor tegak lurus, Vektor hasil Uraian dikatakan vektor-vektor komponen, Dan vektor yang sudah diuraikan menjadi vektor komponen, Vektor itu dianggap sudah tidak ada, Alasanya karena vektor itu sudah diwakili oleh komponennya.
Misalnya, Ketika saudara menguraikan 50Kg beras menjadi 2 karung, Masing-masing diisi dengan berat 20Kg dan 30Kg, Pertanyaanya, Apakah karung 50Kg tetap 50Kg?
Menjumlahkan Vektor Dengan Cara Metode Uraian
Menguraikan sebuah vektor menjadi dua vektor komponen yang saling tegak lurus.
Gambar diatas dapat menginformasikan sebuah vektor A yang diuraikan menjadi dua buah vektor komponen, masing-masing berada pada sumbu -x dan pada sumbu -y. Ax ialah komponen vektor A pada sumbu -x dan Ay adalah komponen vektor A pada sumbu -y.
Dengan mengingat definisi sin θ dan cos θ dari trigonometri, besar setiap komponen vektor A dapat ditulis
Ax = A cos θ dan Ay = A sinθ
Sementara itu, dengan menggunakan Dalil Pythagoras diperoleh hubungan A = √Ax2+Ay2
Selanjutnya, hubungan antara Ax dan Ay diberikan oleh tan θ = Ay/Ax

Menjumlahkan Vektor Melalui Vektor Komponennya
Cara menjumlahkan vektor bisa dilakukan dengan cara menguraikan setiap vektor menjad komponen ke sumbu -x dan sumbu -y pada koordinat kartesius.  Metode seperti ini dapat disebut juga metode uraian.
Dibawah ini adalah cara-cara metode uraian dalam untuk mencari besar dan arah vektor resultan.
a. Buatlah sebuah koordinat kartesius x-y.
b. Letakkan titik tangkap semua vektor pada titik asal (0,0). Hati-hati, arah vektor tidak boleh berubah.
c. Uraikan setiap vektor, yang tidak berimpit dengan sumbu-x atau sumbu-y, menjadi komponen-komponennya pada sumbu-x dan sumbu-y.
d. Tentukanlah resultan vektor-vektor komponen pada setiap sumbu, misalnya
x ΣR = resultan vektor-vektor komponen pada sumbu-x.
y ΣR = resultan vektor-vektor komponen pada sumbu-y.
e. Besar vektor resultannya
R = √(ΣRx)2 + (ΣRy2)
dan arahnya terhadap sumbu-x positif
tan θ = ΣRx/ΣRy

Penjumlahan Vektor Dengan Metode Grafis dan Analisis

Penjumlahan Vektor Menggunakan/Dengan Metode Grafis serta Analisis
DAFTAR ISI
Contoh soal dan rumus-rumusnya
Resultan Dua Vektor Sejajar, Vektor yang Saling Tegak Lurus, Vektor yang Mengapit Sudut
Melukis Resultan Beberapa Vektor dengan Metode Poligon


1. Resultan Dua Vektor Sejajar

Contoh, Saudara ingin pergi berkeliling kota Wonogiri, dengan menggunakan motor, 2 jam pertama, Saudara bergerak lurus ke arah sebelah timur sejauh 50Km, Kemudian anda melakukan peristirahatan, sebahis istirahat saudara kembali melakukan perjalanan ke arah timur lagi sejauh 30Km, Jadi saudara telah berpindah (R = A+B) 50Km+30Km = 80Km ke arah bagian timur.
Jadi resultan perpindahan anda ker arah timur adalah 80Km, Secara Grafis perpindahan saudara dapat digambarkan seperti gambar dibawah ini.
Penjumlahan Vektor Menggunakan Metode Grafis serta Analisis
Gambar Menjumlahkan dua vektor searah dengan Grafis.
Hal ini sama saja dengan pengurangan vektor R = A-B

2. Resultan Dua Vektor Saling Tegak Lurus
Contohnya, Saudara mengendarai motor lurus ke arah timur dengan jauh 40Km, kemudian anda berbelok menuju utara dengan tegak lurus sejauh 30Km. (Perhatikan tanda panah)
Dengan metoda Grafis maka perpindahan saudara dapat digambarkan secara grafis seperti gambar dibawah ini.

Besar resultan perpindahannya, r, diperoleh dengan cara Dalil Pythagoras, seperti gambar dibawah.

Menjumlahkan dua vektor yang saling tegak lurus
Gambar  Menjumlahkan dua vektor yang saling tegak lurus.
Rumus untuk memperoleh hasil (dengan cara Pitagoras)  R = √A2 + B2
r = √x2 + y2= √402 + 302 
r = 50Km

Rumus Arah vektornya θ = tan−1 (B/A)
θ = tan−1 y/x 
θ = tan−1 30/40
θ 37o

3. Resultan Dua Vektor yang Mengapit Sudut
Cermati gambar dibawah ini, Dibawah ini terdapat 2 vektor yang namanya A dan B 
Gambar vektor resultannya dapat diperoleh dengan cara menempatkan pangkal vektor B di ujung vektor A. Selanjutnya, tarik garis dari titik pangkal vektor A ke titik ujung vektor B dan buatkan panah tepat di ujung yang berimpit dengan ujung vektor B. Vektor inilah, R, resultan dari vektor A dan B. Hasilnya seperti diperlihatkan pada Gambar 2.6 (b).
Gambar Resultan Dua Vektor yang Mengapit Sudut
Gambar Resultan Dua Vektor yang Mengapit Sudut
Gambar Vektor (a) Vektor A dan vektor B mengapit sudut.Gambar Vektor (b) Menggambarkan vektor resultan dari vektor A dan vektor B.
Besar vektor resultan, R, dapat ditentukan secara analitis  dengan rumus dibawah ini.
R = √A2 + B2 + 2AbcosѲ

4. Selisih Dua Vektor yang Mengapit Sudut
Misalnya kita mempunyai Vektor yang namanya Vektor A dan vektor -A, dan mempunyai besar yang sama, yaitu |A| = |A| = A.Akan tetapi arahnya yang berbeda yaitu berlawanan.
Selisih dari dua buah vektor diatas, misalnya vektor A  B, secara grafis sama dengan jumlah antara vektor A dan vektor B.
Secara matematis, rumus vektor selisihnya dapat ditulis R = A  B.
Secara analitis, besar vektor selisihnya diperoleh: 
R = √A2 + B2 – 2AbcosѲ

5. Melukis Resultan Beberapa Vektor dengan Metode Poligon
Misalnya ada tiga buah vektor nama vektornya anggap saja vektor, A, B, serta C.Dan vektor ini memiliki besar serta arahnya yang berbeda, terlihat seperti gambar dibawah ini
Resultannya vektornya dapat diperoleh dengan menggunakan metode poligon, Caranya sebagai berikut.

A. Hubungkanlah titik vektor B diujung vektor A serta dititik pangkal vektor C pada ujung vektor B.
B. Buatlah garis vektor resultan, R, dengan titik tangkap sama dengan titik pangkal vektorA dan ujung panahnya tepat di titik ujung vektor C.
Hasil gambar akhir dari penjelasan poin A dan B adalah gambar yang (B)
Gambar cara Melukis Resultan Beberapa Vektor dengan Metode Poligon
Gambar Resultan vektor dengan metode poligon

Secara matematis, vektor resultan pada gambar (B) bisa ditulis R = A + B + C

Sekian tentang Penjumlahan Vektor Menggunakan/Dengan Metode Grafis serta Analisis.

Penjumlahan Vektor

Penjumlahan Vektor, Artikel Ini meliputi Penjumlahan Vektor, Resultan dan komponen Besaran Vektor, Contoh Soal Dan Pembahasan atau jawaban, Penjumlahan dua (2) vektor membentuk sudut tumpul > 90 Derajat.
  • PENJUMLAHAN VEKTOR
PENJUMLAHAN VEKTOR


  • Resultan dan komponen vektor
Resultan dan komponen vektor

  • Contoh Soal Penjumlahan Vektor
Contoh Soal Penjumlahan Vektor

  • PENJUMLAHAN DUA VEKTOR MEMBENTUK SUDUT TUMPUL (>90 Derajat)

  • CONTOH SOAL PENJUMLAHAN DUA VEKTOR MEMBENTUK SUDUT TUMPUL (>90 Derajat)
CONTOH SOAL PENJUMLAHAN DUA VEKTOR MEMBENTUK SUDUT TUMPUL (>90 Derajat)

Komponen Besaran Vektor

Komponen Besaran Vektor, Meliputi Vektor tabel besaran, Notasi, lambang, Simbol, Arah Vektor
Tabel Besaran Vektor Dan Besaran Skalar
Tabel Besaran Vektor dan Skalar
Besaran Vektor ialah yang hanya mempunyai nilai serta arah.
Contoh Besaran Vektor adalah: implus, momentum, usaha percepatan dan gaya, kecepatan, serta perpindahan.
  • KOMPONEN VEKTOR
KOMPONEN BESARAN VEKTOR

Besaran Skalar Dan Vektor

Contoh dan Pengertian Besaran Skalar Dan Vektor, Artikel ini meliputi Materi fisika kelas 7 (VII) SMP, Pengertian besanran sekalar dan vektor, contoh besaran sekalar dan vektor, Cara menyatukan satu vektor, Lambang simbol penulisan vektor, PENJUMLAHAN VEKTOR, MENENTUKAN VEKTOR RESULTAN DENGAN METODE ANALITIS, MENENTUKAN VEKTOR RESULTAN DENGAN METODE GRAFIS, MENENTUKAN VEKTOR RESULTAN.

Setelah sebelumnya membahas tentang Besaran Pokok Dan Satuanya
Pengertian
Pengertian Besaran skalar ialah Besaran yang hanya bisa mempunyai nilai saja
Contoh-nya ialah : jarak, waktu, massa, suhu, usaha, energi potensial, kelajuan, jumlah zat, energiilistrik serta volume.

Pengertian Besaran vektor ialah yang hanya mempunyai nilai serta arah saja.
Contoh : implus, momentum, usaha percepatan dan gaya, kecepatan, serta perpindahan.

Cara menyatakan suatu vektor
Digambar, Digambarkan suatu vektor gaya (F) mempunyai nilai sebesar 40N Serta memiliki arah 30o terhadap sumbu X.
Besar vektor F= 40 N digambarkan dengan panjang anak panah 4 cm
Ini berarti skala yang dipilih adalah 1 cm = 10 N atau 4 cm = 40 N.
Cara menyatukan satu vektor
Lambang simbol penulisan vektor
Lambang suatu vektor  :Lambang simbol penulisan vektordanLambang simbol penulisan vektor
PENJUMLAHAN VEKTOR
Cara Menggambar Penjumlahan dengan cara Metode Segitiga

Penjumlahan dengan Metode Segitiga
F3 = F1 + F2
MENENTUKAN VEKTOR RESULTAN
Ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menentukan nilai dan arah vektor resultan, yaitu dengan metode grafis dan metode analitis.
MENENTUKAN VEKTOR RESULTAN DENGAN METODE GRAFIS
1. Tetapkan sumbu X positif sebagai acuan menentukan arah.
2. Gambar setiap vektor yang akan dijumlahkan.
a. Arah vektor digambar terhadap sumbu x positif dengan menggunakan busur derajat.
3. Gambar vektor Resultan dengan metode segitiga (untuk 2 vektor) dan metode poligon (lebih dari 2 vektor).
4. Ukur panjang vektor Resultan dengan mistar, sedangkan arah vektor Resultan diukur terhadap sumbu x positif dengan busur derajat.
5. tentukan besar dan arah vektor Resultan :
a. Besar vektor Resultan sama dengan hasil kali panjang vektor resultan (langkah 4) dengan skala panjang (langkah 2b).
b. Arah vektor resultan sama dengan sudut yang dibentuk oleh vektor resultan terhadap sumbu x positif yang telah diukur dengan busur derajat.
MENENTUKAN VEKTOR RESULTAN DENGAN METODE ANALITIS
Dalam menentukan besar dan arah vektor Resultan dengan metode analitis, kita dapat menggunakan 2 cara yaitu menggunakan Rumus Cosinus dan menggunakan Vektor Komponen.

Menentukan Vektor Resultan dengan Rumus Cosinus
Rumus Cosinus yang digunakan untuk menghitung resultan besar dua vektor yang arahnya sembarang adalah:

Menentukan Vektor Resultan dengan Rumus Cosinus

Misalnya terdapat dua vektor, F1 dan F2 sebagaimana tampak pada gambar di bawah.

Menentukan Vektor Resultan dengan Rumus Cosinus
Sekian dari file education mengenai vektor dan sekalar

Besaran Pokok dan Satuanya


Besaran Pokok dan beserta Satuanya, 7 Besaran Pokok, Simbol Besaran, Satuan, dan Simbol Satuan, Meliputi Alat yang digunakan 7 Besaran, Pengkuran panjang.
  • Alat ukur Yang Digunakan Di Besaran Pokok:
Panjang: mistar
Massa: Neraca.
Waktu: Stopwatch.
Kuat arus listrik: Amperemeter.
Suhu: termometer.
Intesitas cahaya: Luxmeter.

jumlah zat: mol.
1 mol didefinisikan sebagai jumlah zat suatu unsur elementer sebanyak jumlah atom yang ada pada 0,012 kg karbon yang nilainya kira-kira 6,0221413 x 10 kuadrat 23.



7 Besaran Pokok, Simbol Besaran, Satuan, dan Simbol Satuan
7 Besaran Pokok, Simbol Besaran, Satuan, dan Simbol Satuan

Artikel yang wajib di baca
Besaran Pokok dan Besaran Satuan

Besaran Turunan Serta Satuanya

Besaran turunan dan tabel satuannya dalam ilmu fisika, Sebenarnya artikel ini sudah dibahas secara gamblang oleh file education, akan tetapi artikelnya tidak berada dihalaman pertama google.

Klik Besaran Pokok Dan Besaran Turuna dan Satuanya
isi dari link diatas adalah

  1. Besaran turunan Serta satuannya dalam ilmu fisika
  2. Besaran Pokok dan tabel satuannya
  3. BESARAN PANJANG dan tabel satuannya
  4. Besaran Waktu dan tabel satuannya
  5. BESARAN TURUNAN dan tabel satuannya
  6. BESARAN DIMENSI dan tabel satuannya

Pengertian Pengukuran

Pengertian pengukuran, Dalam Materi fisika kelas 7 (VII), Definisi/Pengertian, Pengukuran yang menggunakan alat-alat standar dan yang tidak setandar, Pengukuran menurut para ahli adalah Suryabrata tahun (1984), Ronbach yang dikutip oleh Mehren pada tahun (1973), Hamalik (1989), dan Umar (1991).

Pengukuran
Pengukuran adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mengidentifikasi besar kecilnya obyek atau gejala .
Pengukuran dapat dilakukan dengan dua cara:
1. Menggunakan alat-alat yang standar
2. Menggunakan alat-alat yang tidak standar.
  • Pengukuran Menurut Bapak Suryabrata, Tahun 1984
Pengukuran secara sederhana bahwa pengukuran terdiri atas aturan-aturan untuk mengenakan bilangan-bilangan kepada sesuatu obyek untuk mempresentasikan kuantitas atribut pada obyek tersebut.
  • Pengukuran Menurut Cronbach yang dikutip oleh Mehren pada tahun1973
Pengukuran adalah : pengukuran sebagai suatu prosedur yang sistematis untuk mengamati perilaku seseorang dan menggambarkannya dengan bantuan skala numerik atau sistem pengkategorian. Hamalik (1989), menyatakan bahwa kualitas dan kuantitas hasil pengukuran itu banyak bergantung pada jenis dan mutu alat ukur yang digunakan.
  • Pengukuran Menurut Menurut Umar pada tahun 1991
Pengukuran adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan informasi data secara kuantitatif. Hasil dari pengukuran dapat berupa informasi-informasi atau data yang dinyatakan dalam berntuk angka ataupun uraian yang sangat berguna dalam pengambilan keputusan, oleh karena itu mutu informasi haruslah akurat.
"Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa pengukuran adalah suatu prosedur yang sistematis untuk memperoleh informasi data kuantitatif baik data yang dinyatakan dalam bentuk angka atau bilengan maupun uraian yang akurat, relevan, dan dapat dipercaya terhadap atribut yang diukur dengan alat ukur yang baik dan dengan prosedur pengukuran yang baik, jelas, dan benar."

Sekian dari saya tentang artikel Pengertian pengukuran, Semoga bermanfaat.

Rumus, Pengertian Kalor Jenis

Rumus Kalor Jenis
Rumus kalor jenis
Rumus, Pengertian Kalor Jenis ini meliputi  materi fisika kelas 7 (VII) SMP, Pengertian Atau Definisi dari kalor, rumus kalor jenis, penemu kalor.
Kalor jenis adalah kuantitas fisik yang bisa diukur dan mencirikan jumlah panas yang dibutuhkan untuk dapat mengubah suhu/temperatur dari suatu zat dalam kisaran jumlah tertentu.
Kalor jenis sering juga disebut sebagai kapasitas kalor jenis, dengan simbol C.
Lambang dari kalor jenis adalah huruf (C).
Dalam Satuan SI, satuan dari kalor jenis adalah joule (s) (J) per kelvin (K).
Pada tahun 1750 Joseph Black menyelidikinya, Kalor Jenis didapat dari energi kinetik dan juga energi potensial.
Sebenarnya Ada tiga besaran, yang dapat digunakan dalam menghitung kalor yang diterima atau dilepaskan oleh suatu gas diantaranya adalah:
kalor jenis
kapasitas kalor
kapasitas kalor molar.
Ketiga besaran ini siling berhubungan, dan ketika salah satu rumus tersebut dapat diketahui maka rumus kedua besaran tersebut juga bisa diketahui.

Sekian dari saya tentang Rmus, Pengertian Kalor Jenis

Perpindahan Kalor Secara Induksi

Perpindahan Kalor Secara Induksi, Meliputi Pengertian, Definis, daya hantar kalor, soal kalor, pemanfaatan Kalor, hubungan perpindahan kalor untuk materi bahan ajar fisika kelas 7 (VII) SMP.
Kalor (Panas) bisa berpindah ketempat yang lainya, Ada 3 cara kalaor/panas dapat berpindah, Caranya dengan Konduksi, Konveksi dan radiasi.

Nah berhubung ada tiga macam perpindahan kalor, seperti yang sudah disebutkan diatas tadi dan supaya enek belajarnya, tidak binggung rumit dll, maka FILE EDUCATION Hanya akan membahas tentang Perpindahan Kalor Secara Induksi Saja, Jangan Khuwatir juga yang bagian Konveksi dan Radiasi juga akan dibahas kok sesudah artikel ini.
Langsung saja Mari kita bahas ya.

Konduksi pengertianya berpindahnya kalor melalui suatu zat tanpa disertai perpindahan partikel-partikel zat di dalam kalor tersebuttersebut.

Nih bagus lagi menurut daya hantar dari kalor itu sendiri dapat dibedakan menjadi 2 maca diantaranya:
  • Konduktor
Konduktor ialah jenis bahan yang paling bagus untuk perpindahan kalornya atau daya hantar kalornya. Contohnya, Emas, baja, tembaga, serta alumunium, dan masih banyak contohnya
  • Isolator
Tentunya pernah mendengar isolator bukan (Biasanya sih di bidang listrik sering kesebut nama isolator itu sendiri)?
Nih pengertian Isolator, bahan yang memiliki perpindahan kalor atau daya hantar kalor yang kurang baik. Contoh : kayu, plastik, kertas, kaca, air, dll

Tentunya anda mempunyai alat untuk perpindahan kalor dirumah masing-masing, contohnya seperti Wajan, solder, panci, dll
bagimana dengan pemanfaatan kalor, kalau untuk itu klik saja Pemanfaatan Kalor
  • Nih hal yang krusial banget buat kalor yang harus dipahami dan dimengerti.
Perpindahan kalor konduksi akhirnya menemui hubungan titik kesetimbangan temperaturnya.
Hubungan perpindahan kalor ini menyatakan bahwa laju aliran kalor dengan cara konduksi dalam suatu material, merupakan hasil perkalian dari tiga besaran diantaranya:
1. k = Konduktivitas termal bahan
2. A = Luas penampang yang dialiri kalor secara konduksi yang diukur tegak lurus dengan arah aliran.
3.dt/dx = Gradien temperatur pada arah x.
Menurut Dewitt dan Incropera, (2002), Secara matematis persamaan konduksi dalam arah satu dimensi dengan kondisi steady state, dapat ditulis : qx = -k . A . dt/dx,
qx= (Dinyatakan dalam Watt)
A=Luas (Dinyatakan dalam M Kuadrat)
dt/dx = Gradien suhu (Dinyatakan dalam  Derajat Celcius)

Material yang menunjukkan jumlah kalor yang dapat mengalir melalui satu satuan K dinyatakan dalam W/m . ºK.
Aliran Kalor Secara Konduksi
Persamaan Aliran Kalor Secara Konduksi
Tentunya tidak asik dong kalau cuma membahas kalor saja tenpa adanya soal-soalnya. Nih File Education juga sediakan
Soal perpindahan Kalor

Pengertian Suhu Dan Kalor

Pengertian Besaaran suhu dan kalor fisika, Materi ini meliputi definisi pengertian dan kalor atau suhu dan macam-macam termometer, Konversi suhu, Perbandingan skala Antara termometer, dan Perbandingan skala Celcius dan Fahrenheit.

Suhu ialah besaran panas (kalor) dan satuanya dinamakan derajat, Alat yang digunakan untuk menggukur suhu ialah termoeter.

Klik Kalor Untuk melihat Definisi, Pengertian kalor
Dan klik Skala suhu termometer Untuk melihat detailnya
  • macam-macam termometer:
  1. Termometer alkohol.
  2. Termoelemen.
  3. Pirometer Optik.
  4. Termometer maksimum-minimum Six Bellani.
  5. Termostat.
  6. Termometer diferensial.
  • Konversi suhu
⁰C (Derajat Celcius) =titik leburnya adalah: 0⁰C, Serta titik didih dari sekala Celcius adalah: 100⁰C.
⁰F (Derajat Fahrenheit) =titik leburnya adalah: 32⁰F, Serta titik didih dari sekala Fahrenheit adalah: 212⁰F.
⁰R (Derajat Reamur) =titik leburnya adalah: 0⁰R, Serta titik didih dari sekala  Reamur adalah:  80⁰R

⁰K (Derajat Kelvin) =titik leburnya adalah: 273⁰K, Serta titik didih dari sekala  Kelvin adalah:  373⁰R
  • Perbandingan skala Antar termometer
C : F : R : K = 100 : 180 : 80 : 100 = 5 : 9 : 4 : 5
  • Perbandingan skala Celcius dan Fahrenheit:
T⁰C={9/5 T+32}⁰F atau T°F={5/9(T-32)}⁰C

Ingin latihan soal disertai pembahasanya klik Soal dan pembahasan Suhu dan Kalor